Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto beserta jajaran menteri di bidang ekonomi ke Istana Rans4d Negara setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04 persen pada kuartal III tahun 2025. Pertemuan ini disebut sebagai bentuk evaluasi sekaligus apresiasi terhadap kinerja ekonomi yang relatif stabil di tengah tantangan global.
Menurut sumber internal pemerintahan, pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, serta Gubernur Bank Indonesia. Presiden Prabowo disebut ingin mendengar langsung laporan kondisi ekonomi terkini serta langkah strategis menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Sinyal Positif
Capaian pertumbuhan 5,04 persen (year-on-year) dinilai sebagai pencapaian yang cukup baik. Meski sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya, angka tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional terhadap tekanan inflasi global dan perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama.
Sektor konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, diikuti oleh investasi dan ekspor. Pemerintah juga menilai belanja APBN dan proyek infrastruktur berperan penting dalam menjaga permintaan domestik tetap kuat.
Prabowo dalam arahannya dikabarkan menegaskan bahwa capaian tersebut harus menjadi modal awal untuk memperkuat reformasi ekonomi struktural, terutama dalam hal peningkatan produktivitas, hilirisasi industri, dan ketahanan pangan.
Airlangga Laporkan Evaluasi Kinerja Ekonomi
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga Hartarto melaporkan berbagai program strategis yang telah dijalankan pemerintah, termasuk stimulus fiskal, dukungan kepada sektor usaha kecil-menengah, serta upaya mendorong investasi asing. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas harga pangan dan energi agar inflasi tetap terkendali.
Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan menjelang akhir tahun, salah satunya melalui percepatan belanja pemerintah dan optimalisasi ekspor komoditas unggulan.
Fokus Prabowo pada Peningkatan Kesejahteraan
Presiden Prabowo dikabarkan menekankan pentingnya agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka makro, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama di sektor riil dan daerah. Ia meminta seluruh jajaran menteri ekonomi untuk memastikan bahwa kebijakan fiskal dan moneter berjalan searah dalam mendukung pemerataan pembangunan.
Selain itu, Prabowo menyoroti perlunya memperkuat ketahanan pangan nasional serta memperluas program hilirisasi sumber daya alam agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Tantangan Ekonomi ke Depan
Meski pertumbuhan 5,04 persen dianggap positif, pemerintah menyadari masih ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi. Salah satunya adalah perlambatan ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas dunia.
Pemerintah juga perlu menjaga defisit anggaran tetap terkendali tanpa mengganggu belanja prioritas nasional. Stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi juga akan menjadi fokus utama menjelang akhir tahun 2025.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Airlangga Hartarto dan jajaran kabinet ekonomi menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pertumbuhan mencapai 5,04 persen, Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tekanan global. Namun, tantangan ke depan masih menuntut kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.